Blogger templates

Ads 468x60px

Jumat, 30 Desember 2011

MITOS TENTANG DRAKULA

MITOS DARI TRANSYLVANIA



“Kebohongan yang dipropagandakan terus menerus, akan menjadi sebuah kebenaran”
Tersebutlah di daerah Wallachia, Propinsi Transylvania, di bagian selatan Negara Rumania, terdapat sebuah kastil yang dihuni oleh seorang pangeran bertangan besi. Kekuasaan pangeran tersebut meliputi hampir seluruh Wallachia. Sebagaimana penguasa tiran abad pertengahan, sang pangeran berlaku kejam terhadap siapapun yang berani menantang kekuasaannya. Para penentang dan pembangkang akan mendapatkan hukuman dengan cara-cara yang di luar batas perikemanusiaan.
Sang pangeran memiliki kegemaran yang sangat aneh, sekaligus mengerikan. Dia akan berlonjak kegirangan ketika menyaksikan para penentang kekuasaannya disiksa dengan cara dikuliti, direbus hidup-hidup, dipotong anggota badannya (mutilasi), dan yang paling digemarinya ketika tahanan tersebut disula, yaitu memasukkan kayu lancip sebesar lengan orang dewasa, dari –maaf- dubur / kemaluan sampai tembus ke kepala, punggung, atau dada si korban ! Si korban akan meronta-ronta kesakitan menunggu maut ketika sula dimasukkan oleh anak buah si pangeran, secara perlahan-lahan !
Pangeran sadis tersebut tidak lain adalah Vlad Teves III (1431-1476 M), atau yang populer dengan sebutan Count Dracula, Sang Penguasa Wallachia. Karena kegemaraanya itulah, pangeran tersebut digelari Vlad si Penyula. Sebutan Dracula mangacu pada keanggotaan ayah Dracula, Vlad Teves II, dalam Orde Naga. Orde Naga merupakan sebuah perkumpulan para bangsawan dan ksatria abad pertengahan yang keberadaannya tidak lepas dari suasanan Perang Salib. Dalam Bahasa Latin, naga disebut dracu. Vlad Teves II mendapat sebuatan Vlad sang naga (Vlad dracu) karena jasanya yang besar dalam Orde Naga. Draculae (diterjemahkan ke Bahasa Inggris sebagai Dracula) berarti anak dari sang naga. Alhasil, Sebutan Dracula disematkan pada Vlad Teves III.
Mitos Vampire Penghisap Darah
Meski Dracula merupakan manusia biasa, banyak beredar mitos yang menyertai kematian sang Pangeran dari Wallachia. Penduduk Transylvania dan sekitarnya secara turun temurun menceritakan mitos ini kepada anak cucu mereka. Hal ini wajar mengingat daerah tersebut -sebagaimana halnya daerah Eropa lainnya- telah mengalami masa kegelapan yang teramat panjang dan suram. Konon kabarnya, karena kekejamannya yang luar biasa, Dracula dianggap sebagai iblis. Setelah kematiannya, dia menjelma sebagai sosok makhluk mengerikan penghisap darah. Dia akan beraksi saat bulan purnama. Sebagai iblis, dia bisa menjelma menjadi makhluk apapun. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Dracula sering menjelma menjadi sosok srigala atau kelelawar (vampire) yang akan membalas dendam pada penduduk setempat serta prajurit-prajurit Kekhilafahan Turki Utsmani yang telah memburu dan membunuhnya.
Kepopuleran sang penghisap darah ini menjadi inspirasi seorang sastrawan kelahiran Irlandia –Abraham Stoker - dengan mengabadikan mitos seputar kehidupan Dracula dalam sebuah karya sastra. Tak pelak, nama Dracula –berikut mitos yang menyertainya- menjadi semakin dikenal luas. Novel berjudul “Dracula” ini juga mengilhami Hollywood untuk membuat film-film bertemakan makhluk penghisap darah, seperti vampire, manusia srigala, dsb.
Bahkan seorang novelis kenamaan, Elizabeth Kostova, menjadikan nya tema sentral dalam sebuah novel yang berjudul The Historian (Sang Sejarawan). Meski banyak mengungkapkan fakta sejarah, novel ini juga tidak lepas dari berbagai mitos dan bias seputar kehidupan Count Dracula.
Akhirnya lama kelamaan, fakta seputar Dracula menjadi semakin kabur dan absurd. Berbagai kejanggalan seputar sejarah hidup sang pangeran masih menjadi teka-teki dan bahan perdebatan sampai sekarang. Siapakah sebenarnya sosok yang misterius ini ? Apakah keberadaanya memang nyata, atau sekedar legenda dari para petani Transylvania ?
Dracula Sang Pembantai
Hypatia Cneajna, seorang pakar sejarah Eropa Timur, dalam sebuah bukunya menggambarkan secara lengkap riwayat hidup Vlad si penyula, berikut sepak terjangnya selama menjadi penguasa Wallachia. Bukan hanya itu, metode penyiksaan “si vampire” ini diceritakan secara sangat detail. Selama masa kekuasaannya yang relatif singkat, Dracula telah membantai sedikitnya 300 ribu orang, dimana sebagian besar dari mereka adalah umat Islam.
Kehidupan sosial politik yang begitu bergolak –karena Wallachia merupakan benteng kekuasaan Kristen pasca jatuhnya Konstantinopel, sehingga menjadikan wilayah ini sebagai daerah sengketa-, membawa Dracula kecil ke berbagai petualangan di wilayah-wilayah asing. Dia –bersama Randu, adiknya- sempat tinggal di Turki dan menjadi pemeluk Islam. Dia diperlakukan dengan sangat baik oleh Sultan Muhammad II, Khalifah waktu itu. Tidak lama setelah kembali ke tempat kelahirannya, dia berhasil meraih kekuasaan dengan menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Untuk memantapkan kekuasaanya, dia bersekutu dengan Kerajaan Hongaria dan menjadi pendukung Pasukan Salib di daerah Timur,.
Dracula adalah seorang machiavellis sejati. Cara apapun dilakukan untuk mempertahankan kekuasaannya. Para lawan politiknya disingkirkan dengan cara-cara yang kejam. Akibatnya, Dracula banyak memiliki musuh. Selain Kekhilafahan Islam yang berpusat di Turki, dia juga dibenci oleh para bangsawan, tuan tanah, dan seluruh penduduk Wallachia. Akhir petualangan hidup Dracula terjadi pada tahun 1476 M dalam sebuah pertempuran sengit di tepi Danau Snagof antara pasukannya dengan tentara Khilafah Utsmaniyah yang dipimpin oleh Sultan Muhammad II (lebih dikenal sebagai Muhammad Al Fatih / Mehmed the Qunquer). Kepalanya dipenggal dan dibawa ke Kostantinopel. Matinya Vlad si Penyula menandai akhir dari salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah manusia.
Meski Dracula memiliki track record kelam sekaligus mengerikan, harus diakui, dia memiliki peran besar dalam membendung penyebaran agama Islam di Eropa oleh Kekhilafahan Utsmaniyah. Alhasil, dia tetap dianggap sebagai sosok “pahlawan” yang layak mendapatkan penghormatan. Bahkan, Pemerintah Rumania menganggapnya sebagai pahlawan nasional. Generasi dunia saat ini juga lebih mengenal sosok Dracula sebagai vampire penghisap darah yang tinggal di Kastil dengan ditemani wanita cantik. Sementara fakta sejarah mengenai kehidupannya tenggelam dan terkesan ditutup-tutupi. Kekejaman tiada tara semasa hidupnya seperti mendapatkan legitimasi politis dan sosiologis.
Belajar Dari Sejarah
Sejarah diakui sebagai ilmu yang mempelajari kejadian masa lampau, baik berupa tokoh –berikut sepak terjangnya- suatu peristiwa, dan sebagainya. Adanya perbedaan metodologi dalam penelusuran bukti-bukti dan sumber-sumber sejarah akan mengakibatkan terjadinya sebuah deviasi penafsiran yang tidak jarang menimbulkan perdebatan. Alhasil, sejarah kadangkala subjektif. Dia bisa dilihat dari beragam sudut pandang bahkan kepentingan.
Tapi satu hal yang pasti, para “penentu” sejarah biasanya adalah fihak yang berkuasa, dominan, dan hegemonik. Merekalah yang paling menentukan penafsiran mengenai kejadian masa lampau, sesuai kepentingan mereka. Akhirnya, klaim kebenaran – termasuk sejarah- menjadi monopoli orang, entitas, atau bahkan peradaban yang berkuasa.
Fakta menunjukkan bahwa saat ini peradaban Barat menjadi superordinat tunggal terhadap peradaban lainnya. Berbagai peristiwa –termasuk peristiwa sejarah- senantiasa akan disetting sedemikian rupa agar terbentuk paradigma homogen yang bermuara pada pengakuan bahwa peradaban Barat memiliki keunggulan dibandingkan peradaban lainnya. Hal ini penting agar mereka dapat mepertahankan hegemoni kekuasaannya. Selain itu, Barat tidak pernah sungkan menggunakan cara-cara kotor dengan mengkamuflase (baca : memutarbalikkan) fakta agar terbentuk opini umum yang menguntungkan mereka.
Dalam kasus di atas, barat memanfaatkan mitos penduduk Transylvania dan Novel Bram Stoker untuk mengalihkan perhatian kepada sosok Count Dracula yang lebih “ramah”, berupa sesosok vampire haus darah yang hanya bisa dikalahkan dengan bawang putih, salib, dsb, seperti yang sering kita lihat di film-film Hollywood. Tidak lupa mereka memberikan bumbu-bumbu penyedap sehingga mitos tersebut terkesan merupakan sebuah fakta yang rasional dan ilmiah. Sementara realitas yang sebenarnya terjadi –karena akan mencoreng nama baik peradaban mereka- akan senantiasa ditutup rapat-rapat. Negara-negara barat menggunakan seluruh sarana –terutama media- untuk mempropagandakan kebohongan tersebut keseluruh dunia.
Propaganda intensif barat telah menuai hasil. Berbagai kebohongan yang dilakukan, dari masa lampau sampai yang teraktual-, telah menjadi konvensi bersama sebagian besar penduduk dunia, tak terkecuali umat Islam. Barat memang sengaja menjajah umat Islam secara pemikiran karena hanya Peradaban Islam lah yang mampu menyaingi bahkan mengeliminasi dominasi barat yang selama ini menjadi aktor utama berbagai tragedi serta instabilitas yang ada di dunia.
Sikap hipokrit barat (AS dan sekutunya) misalnya terlihat dari tragedi serangan militer atas Afghanistan dan Iraq, pengakuan mantan seorang bandit ekonomi asal AS, John Perkins, Penjajahan Israel atas Palestina, Kasus Nuklir Iran, dan ratusan kasus lainnya. Untuk itulah, tidak ada jalan lain, kita harus senantiasa waspada sekaligus “curiga” pada setiap opini atau wacana apapun -terutama yang berkaitan dengan Islam dan kaum muslim- yang berkembang saat ini. Sebab, sebagian besar opini tersebut kebanyakan berasal dari media Barat dan telah diolesi sedemikian rupa demi menjaga kepentingan Barat serta antek-anteknya. Wallahu’alam bis showab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ads 468x40